Kamis, 28 Juni 2012

Metode Ilmiah


BAB 1
1.     PENDAHULUAN
Ilmu alam (IA) atau sering disebut juga ilmu pengatahun alam (IPA), yang dalam bahasa inggris disebut “ Natural Sciense “ atau SAINS. Ilmu alamiyan mempelajari tenttang gejala-gejala alam dengan akal sehigga timbul konsep, sedang ilmu alamyah dasar (IAD) hanya membahas prinsip-prinsip dasar Ilmu Alamiyah .
1.      Manusia yang Bersipat Unik
Manusia sebagai makhluk hidup mempunyai ciri-ciri:
ü  Memiliki organ tubuh yang kumpliks dan khusus.
ü  Mengadakan pertukaran zat.
ü  Memberikan tanggapan dan rangsangan terhadap dari dalam dan dari luar.
ü  Memiliki potensi berkembang biak.
ü  Tumbuh dan bergerak.
ü  Berenteraksi dengan lingkungan.
ü  Mati.

2.       Rasa Ingin Tahu dan Akal Budi
Semua makhluk hidup memberikan tanggapan terhadap rangsangan dari luar , yaitu lingkungan,; maka hewan, tumbuhan dan manusia juga memberikan riaksi terhadap lingkungannya. Misalnya tumbuhan hijau daun memberikan reaksi terhadap sinar matahari. Hewan tingkat tiggi memberikan reaksi terhadap lingkungan dengan mengadakan eksplorasi atau ingin tahu daerah lain.[1]Manusia juga memiliki naluri seperti tumbuhan dan hewan, tetapi manusia memiliki akan dan bodi. Rasa ingin tahu manusia tidak pernah dipuaskan, kalau satu masalah dipecahkan, timbul masalah yang lain.[2]



2.     Rumusan Masalah
v  Apa yang dimaksud  dengan metode ilmiah?
v  Bagaimana membentuk sikap ilmiah pada diri pribadi yang berawal dari kesadaran?
v  Jelaskan mengenai langkah-langkah operasional metode ilmiah yang ditinjau dari segi teori dan praktiknya didalam masyarakat luas.

3.     Tujuan
Memberikan gambaran tentang suatu hal yang nyata dengan prinsip sebab akibat didalam suatu perbuatan.Pilihan selalu ada dan tindakan selalu mengiringi, baik buruknya ada ditangan kita, Sudah selayaknya manusia dengan akalnya menjadi manusia sebenarnya.




















BAB II
METODEILMIAH
1.     Pengertian Metode Ilmiah
Metode ilmiah adalah berpikir secara rasional dan berpikir secara empiris membentuk dua kutub yang saling bertentangan.Kedua belah pihak, masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangannya.akhirnya  timbul gagasan untuk menggabungkan kedua pendekatan ini sedemikian hingga tersusun metode yang dapat  lebih diandalkan untuk menemukan pengetahuan yang benar. Gabungan antara dua pendekatan rasional dan pendekatan empiris dinamakan metode Ilmiah.Rasionalisme memberikan kerangka pemikiran yang koheren dan logis, sedang empirisme dalam memastikan kebenarannya memberikan kerangka pengujiannya.Dengan demikian maka pengetahuan yang dihasilkan ialah pengetahuan yang konsisten dan sistematis serta dapat diandalkan, karena telah diuju secara empiris.
Metode ilmiah merupakan bagian yang paling penting dalam mempelajari ilmu alamiah.Langkah-langkah dalam menerapkan metode ini tidak harus selalu berurutan, langkah demi langkah, seperti yang tercantum berikut ini. Yang penting ialah pemecahan masalah untuk mendapatkan kesimpulah umum (generalisasi)hanya didasarkan atas data dan diuji dengan data bukan dengan keinginan, prasangka, kepercayaan, atau pertimbangan lain.
Metode ilmiah sendiri merupakan cara dalam memperoleh pengetahuan secara ilmiah. Dapat juga dikatakan bahwa metode ilmiah merupakan gabungan antara rasionalisme dan empirisme.Cara-cara berpikir rasional dan empiris tersebut tercermin dalam langkah-langkah yang terdapat dalam peroses kegiatan ilmiah tersebut.Kerangka dasar prosedurnya dapat diuraikan ats langkah-langkah berikut.

1). Penemuan atau penentuan masalah
Dalam kehidupan sehari-hari kita menghadapi berbagai masalah dengan adanya masalah ini maka otak kita mulai berpikir. Kesadaran mengenai masalah yang kita temukan secara empiris tersebut menyebabkan kita mulai memikirkannya secara mendalam: kita mulai mengkajinya secara rasional. Masalah tersebut harus dirumuskan sedemikian rupa hingga memungkinkan untuk dianalisa secara logis dan kemudian mudah untuk dipecahkan. Jadi pada langkah pertama ini kita menetapkan masalah yang akan kita telaah dengan ruang lingkup serta batasan-batasannya. Ruang lingkup serta batasan-batasannya tersebut harus jelas sedemikian hingga tidak mengalami kesukaran dalam merumuskan kerangkanya.

2). Perumusan kerangka masalah
Langkah ini merupakn usaha untuk mendiskripsikan permasalahannya secara lebih jelas.Suatu masalah merupakan suatu gejala dimana beberapaa fakta saling berkaitan satu samalain dan membentuk suatu kerangka permasalahan.Unsure-unsur yang membentuk kerangka ini dapat kita turunkan secara empiris.Tetapi tidak semua masalah dalam keadaan demikian.Banyak masalah-masalah yang unsur-unsur pembentuknya tidak dapat dikenel dengan langsung secara empiris, dan untuk itu diperlukan kerangka pemikiran rasional.jadi dalam langkah perumusan kerangka permasalahan ini, kita sudah mulai berpikir secara empiris dan secara rasional.

3).Pengajuan Hipotesis
Hipotesis adalah kerangka pemikiran sementara yang menjelaskan hubungan antara unsure-unsur yang membentuk suatu kerangka permasalahan.Pengajuan hipotesis ini didasarkan pada permasalahan yang bersifat rasional.Kerangka pemikiran sementara yang diajukan tersebut disusun secara deduktif berdasarkan premis-premis atau pengetahuan yang telah diketahui kebenarannya.

4). Deduksi Hipotesis
Kadang-kadang, dalam menjebatani permasalahan secara rasional dengan pembuktian secara empiris membutuhkan langkah perantara.Deduksi hipotesa ini merupakan langkah tertentu dalam rangka menguji hipotesa yang diajukan.Konsekuensi hipotesa tersebut secara deduktif dijabarkan secara empiris. Jadi dapat juga dikatakan bahwa deduksi hipotesis merupakan identifikasi fakta-fakta apa saja yang dapat diamati dalam dunia fisik yang nyata dalam hubungannya dengan hipotesis yang diajukan.

5). Pengujian Hipotesis
Langkah ini merupakan usaha untuk mengumpulkan fakta-fakta yang relevan dengan deduksi hipotesis.Jika fakta-fakta tersebut sesuai dengan konsekuensi hipotesis, berarti bahwa hipotesis yang di ajukan terbukti/benar, karena didukung oleh fakta-fakta yang nyata.Sebaliknya bila fakta-fakta yang ada tidak sesuai dengan konsekuensi hipotesis, yang berarti bahwa hasil deduksinya mleset, maka hipotesis tersebut harus di tolak.Jadi kriteria untuk menentukan apakah suatu hipotesis itu benar atau tidak ialah kenyataan empiris, apakah hipotesis tersebut didukung oleh fakta atau tidak.
Dengan telah dibuktikannya kebenaran dari suatu hipotesis, maka hipotesis tersebut dapat dianggap sebagai teori ilmiah dan merupakan pengetahuan baru.Pengetahuan baru ini dapat berupa teori baru, kaidah baru, atau mungkin juga hanya sekedar penemuan lanjutan dari teori yang sudah ada.Selanjutnya pengetahuan ini dapat digunakan sebagai premis dalam usaha menjelaskan atau menelaah gejala-gejala lainnya. Proses kegiatan ilmiah tersebut berlangsung terus dan merupakan daur yang tidak ada batas akhirnya.
Langkah-langkah dalam kegiatan ilmiah tersebut diatas tersusun dalam urutan yang teratur; langkah yang satu merupakan persiapan bagi langkah berikutnya. Agar suatu penelaahan dapat disebut ilmiah, maka harus ditempuh seluruh langkah –langkah tersebut, meskipun prakteknya tidak selalu harus dengan urutan yang sama. Dengan danya hubungan langkah-langkah yang dinamis, langkah yang satu menjelaskan langkah-langkah yang lainnya maka pengetahuan yang ditemukan konsisten dengan pengetahuan sebelumnya dan didukung oleh fakta-fakta yang nyata.[3]

6).Keterbatasan dan keunggulan metode ilmiah
Metode ilmiah dapat meghasilkan ilmu atau pengetahuan yang ilmia.Dalam pengujian hipotesis, diperlukan data.Data ini berasal dari pengamatan yang dilakukan oleh pancaindra.Kita mengetahui bahwa panca indera mempunyai keterbatasan untuk menangkap suatu fakta.Dengan demikian maka data yang terkumpul juga tidak sesuai dengan yang sebenernya. Kesimpulan yang diambil berdasarkan data yang tidak benar, tentusaja akan tidak benar. Jadi, peluang terjadinya kekeliruann suatu kesimpulan yang diambil berdasarkan metode ilmiah tetap ada. Oleh karena itu semua kesimpulan ilmiah, tau kebenaran ilmiah, termasuk ilmu pengetahuan Alam (IPA) bersifat tentative, artinya kesimpulan itu dianggap benar selama belum ada kebenaran ilmu yang dapat menolak kesimpulan itu. Sedangkan kesimpulan ilmiah yang dapat menolak kesimpulan ilmiah yang terdahulu, menjadi kebenaran ilmu yang baru.
Keterbatasan lain dari metode ilmian adalah tidak dapat menjangkau untuk membuat kesimpulan yang bersangkutan dengan baik dan buruk atau sistem nilai, tentang seni dan keindahan,  dan juga tidak dapat menjangkau untuk menguji adanya Tuhan.
Keunggulan:
Ilmu atau Ilmu Pengetahuan (termasuk IPA) mempunyai ciri khas yaitu obyektif, metodik, sistematik dan berlaku umum. Dengan sifat-sifat tersebut, maka orang yang berkecimpung atau selalu berhubungan dengan ilmu pengetahuan akan terbimbing sedemikian hingga padanya terkembangkan suatu sikap yang disebut sikap ilmiah. Yang dimaksud dengan sikap ilmiah tersebut adalah sikap:
a)     Mencintai kebenaran yang obyektif, dan bersikap adil.
b)     Menyadari bahwa kebenaran ilmu tidak absolute.
c)      Tidak percaya pada takhayul, astrologi maupun untung-untungan.
d)     Ingin tahu lebih banyak.
e)     Tidak berpikir secara prasangka.
f)       Tidak percayaa begitu saja pada suatu kesimpulan tanpa adanya bukti-bukti yang nyata.
g)     Optimis, teliti dan berani menyatakan kesimpulan yang menurut keyakinan ilmiahnya adalah benar.

A.     SIKAP ILMIAH
Salah satu aspek tujuan dalam mempelajari ilmu alamiah adalah pembentukan sikap ilmiah.  Orang yang berkecimpung dalam ilmu alamiah akan membentuk sikap ilmiah yang antara lain adalah.
a)    Jujur
Seorang ilmuan wajib melaporkan  hasil pengamatan secara objektif. Seorang ilmuan dalam kehidupan sehari-hari mungkin  saja tidak jujur dari manusia lainnya. Tetapi dalam penelaahan ilmiah ada hal-hal yang memaksa pada ilmuan, yakni yang kita sebut faktor control.
Seorang ilmuan telah dilatih untuk memperhatikan kontrol internal dalam setiap penelitiannya.Dengan ini factor-faktor kebetulan disingkirkan. Dalam suatu penelitian tentang pengaruh sejenis obat tertentu, dibuat kelompok penderita yang diberi obat tertentu dan klompok lain yang tidak diberi obat sebagai klompok control.
Disamping kontrol internal dan pula kontrol eksternal.Dalam hal ini ilmuan lain akan mengulangi penelitian ilmuan pertama dengan kondisi yang dibuat serupa. Seterusnya ilmuan ketiga dapat pula menguji peneliti diatas. Karena itu,  laporan ilmuan haruslah dibuat sejujur-jujurnya dan penelitian menjadi terbuka untuk pengulangan. Memang seorang ilmuan harus jujur dalam melaksanakan laporan penelitiannya.
Manusia dan Cinta Kasih, Cinta kasih bersumber pada ungkapan, perasaan yang didukungoleh unsur karsa, yang berbentuk tingkahlakudan pertimbangan dengan akalyang menimbulkan tanggung jawab.
Macam-macam cinta kasih ,
Adanya beberapa macam cinta kasih, yaitu sebagai berikut :
Ø  Cinta kasih antara orang tua dan anak.
Ø  Cinta kasih antara wanita dan pria.
Ø  Cinta kasih  antara sesama manusia.
Ø  Cinta kasih antara manusia dan Tuhan.
Ø  Cinta kasih antara manusia dan lingkungan.[4]

b)    Terbuka
Seorang ilmuan mempunyai pandanngan luas, terbuka, bebas dari praduga.Ia meyakini bahwa prasangka, kebencian, baik pribadi maupun golongan dan pembunuhan adalah sangat kejam. Ia tidak akan berusaha memperoleh dugaan bagi buah pikirannya atas dasar prasangka. Ia akan terus berusaha mengetahui kebenaran tentang alam, materi, moral, politik, ekonomi, dan tentang hidup. Ia tidak akan meremehkan suatu gagasan baru. Ia akan menghargai setiap gagasan baru dan mengujinya sebelum menerima atau menolaknya. Jadi, ia terbuka akan pendapat oaring lain.
c)     Toleran
Seorang ilmuan tidak merasa bahwa ia paling hebat. Ia bahkan bersedia mengakui bahea orang lain mungkin lebih banyak pengetahuannya, bahwa pendapatnya mungkin saja salah, sedangkan pendapat orang lain setelah diuji mungkin benar. Dalam usaha menambah ilmu pengetahuan ia bersedia belajar dari orang lain, memperbandingkan pendapatnya dengan pendapat orang lain. Ia tidak akan memaksakan suatu pendapat  kepada oarng lain. Ia memiliki tenggang rasa atau sikap toleran yang tinggi, jauh dari sikap angkuh.

d)    Skeptis
Ilmuan pencari kebenaran akan bersikap hati-hati, meragui, skeptic. Ia akan menyelidiki bukti-bukti yang melatar belakangi suatu kesimpulan. Ia tidak akan sinis, tetapi kritis untuk memperoleh data yang menjadi dasar suatu kesimpulan tanpa didukung bukti-bukti yang kuat.
Sikap skeptis ini perlu dikembangkan oleh orang yang berniat memecahkan masalaah. Bila ia tidak kritis mengenai setiap informasi yang ia peroleh, mungkin ada informasi yang salah hingga meninbulkan akibat suatu kesimpulan yang salah. Karena itu, setiap informasi perlu diuji, kebenarannya perlu dicek.Informasi memerlukan verifikasi.
Setelah bukti-bukti cukup, ilmuwan baru boleh mengambil kesimpulan dan akhirnya memberikan keputusan.

e)    Optimis
Seoarang ilmuwan selalu berpengharapan baik.Ia tidak akan berkata bahwa sesuatu itu tidak dapat dikerjakan, tetapi akan mengatakan, “Berikan saya kesempatan untuk memikirkan dan mencoba mengerjakan.” Ia selalu optimis.
Rasa humor seorang ilmuan ada hubungannya dengan tingkat kecerdasan maupun sikap optimis seseorang.John Von Neuman seorang ahli matematika ditugaskan membuat komputer untuk perhitungan yang diperlukan sewaktu membuat bom hidrogen. Setelah selesai pesawat itu diserahkan dan dicoba digunakan, maka alat itu ia beri nama Mathematical Analyser, Numerical Integrator anda Computer, disingkat MANIAC.

f)      Pemberani
Ilmu merupakan hasil usaha keras dan sipatnya personal. Ilmuan sebagai pencari kebenaran harus berani melawan ketidakbenaran , penipuan, kepura- puraan, kemunapikkan dan kebatila yang menghambat kemajuan.
Keberanian Copernicus, Galileo, dan Socrates telah banyak diketahui orang .Copernicus  dan Galileo diperselisihkan bahwa bumi adalah pusat alam semesta; tetapi menganggap mataharilah yang menjadi pusat tempat bumi dan planet-planet lainnya berputar. Socrates memilih minum racun daripada menerima hal yang salah.
Profesor Peabody memberikan kuliah terakhir tetang  Perawatan orang sakit. Kuliah ini sangat jelas, penuh rasa belas kasih, sehingga berkali-kali dicetak ulang .pada saat kuliah, ia baru berumur 46 tahun, segar bugar kelihatannya. Uraian kuliahnya sangat serat berisi, cermat, dan disampaikan dengan pasih. Pendengarannya tidk diketahui bahwa dialik ketenangan, Peabody mengidap kanker ganas yang ia derita, ditekuni dan dipahami sepenuh hati medis mengenai setiap gejala kanker yang dialaminya. Sehari sebelum ia meninggal ia menulis sendiri laporan penyakitnya. Itulah ketabhan ilmuan yang ditunjukkannya.

g)     Kreatif
Ilmuan dalam mengembangkan ilmunya harus kreatif. Louis Al-Varez , ilmuan fisika Berkeley, juga pemain golf mengkreasiakn analisator stroboskop untuk meningkatkan cara bemain golf.dengan alat itu, pada pemukulan golf fase-fase gerak dapat dipelajari, setiap pukulan dapat diteliti. Kepada presiden Eisenhower, yang juga terkenal pemain golf,ia menghadiahkan alat serupa. Sejak itu I memegang paten untuk pembuatan analisator stroboskop tadi.


Dampak Terhadap kebutuhan Manusia Pokok Mmanusia
Pangan
Dampak yang ditimbulkan oleh kemajuan ilmu pengatahuan alam dan tiknologi ada yang pusitif da nada yang negative. Dampak positif antara lain.
Ø  Ditemukan bibit unggul yang dalam waktu sigkat dapat memproduksi bersipat ganda.
Ø  Mekanisme pertanian
Ø  Biotiknologiuntuk merangsang tumbuhnya daun,bunga, atau buah sehigga tumbuh lebih banyak.
Dampak negatifnya pada pemakaian pestisida  yang dapat membunuh hewan ternak dan berbagai sumber penyakit bagi manusia.[5]
Torrance mendefinisian kreativitas sebagai proses prtumbuhan hingga peka akan masalah, kekurangansempurnaan, kekurang tahuan, ketidaklengkapan, ketidakharmonisan dan seterusnya; mengenal kesulitan, mencari pemecahan,; membuat dugaan; merumuskan; dan membuat hepotesis, serta melaporkan hasil hasil penelitian.

B.     LANGKAH-LANGKAH OPERASIONAL METODE ILMIAH
Salah satu syarat ilmu pengetahuan ialah materi pengetahuan itu harus diperoleh melalui metode ilmiah. Ini berarti bahwa caramemperoleh pengetahuan itu menentukan apakan pengetahuan itu termasuk ilmiah atau tidak. Metode ilmiah tentu saja harus menjamin akan menghasilkan pengetahuan yang ilmiah, yaitu yang bercirikan objektivitas, konsisten, dan sistematik.
Langkah-langkah operasional metode ilmiah adalah sebagai berikut:
a.       Perumusan masalah; yang dimaksud dengan masalah disini adalah pernyataan apa, mengapa, ataupun bagaimana tentaang objek yang diteliti. Masalah itu harus jelas batas-batasnya serta dikenal factor-faktor yang mempengaruhinya.

b.      Penyusunan hipotesis; yang dimaksuddengan hipotesis adalah suatu pernyataan yang menunjukkan kemungkinan jawaban untuk memecahkan masalah yang telah ditetapkan. Dengan kata lain, hipotesis merupakan dugaan yang tentu saja didukung oleh pengetahuan yang ada. Hipotesis juga dapat dipandang sebagai jawaban sementara dari permasalahan yang harus diuji kebenarannya dalam suatu observasi atau eksperimentasi.

c.       Pengujian hipotesis; yaitu berbagai usaha pengumpulan fakta-fakta yang relevan dengan hipotesis yang telah diajukan untuk memperlihatkan apakah terdapat fakta-fakta yang mendukung hipotesis tersebut atau tidak. Fakta-fakta ini dapat diperoleh melalui pengamatan langsung dengan mata atau melalui teleskop atau dapat juga melalui uji coba atau eksperimentasi, kemudian fakta-fakta itu dikumpulkan melalui penginderaan.


d.      Penarikan kesimpulan; penarikan kesimpulan ini didasarkan atas penilaian melalui analisis dari fakta (data) untuk melihat apakah hipotesis yang diajukan itu diterima atau tidak.
Hipotesis itu dapat diterima bila fakta yang terkumpul itu mendukung pernyataan hipotesis.Bila fakta tidak mendukung maka hipotesis itu ditolak.Hipotesis yang diterima merupakan suatu pengetahuan yang kebenarannya telah diuji secara ilmiah, dan merupakan bagian dari ilmu pengetahuan.
Keseluruhan langkah tersebut harus ditempuh melalui urutan yang teratur, langkah yang satu merupakan landasan bagi langkah berikutnya. Dari keterangan-keterangan tersebut dapat disimpulkan bahwa ilmu pengetahuan merupakan pengetahuan yang disusun secara sistematis, berlaku umum dan kebenarannya  teruji secara empiris.




Bab III
Kesimpulan
Ø  Metode ilmiah adalah berpikir secara rasional “mengunakan akal atau dapat diterima oleh akal” suatu cara memperolehpengatahuan yang logis.
Ø  Sikap ilmiah berawal dari kesadaran merupakan ilham / atau buah dari pemikiran suatu hal yang menekankan pada perubahan akan pencerahan cahaya ilmu dalam tuntunan arah kehidupan, ia tidak menjadi laying-layang putus, Melainkan tali belati digemgaman tangan kanannya. Pembentukan sikap ilmiah, orang akn berkecimpung dalam imu alamiah, maka akan berbentuk sikap ilmiah yang diantaranya, yaitu:
*      Jujur, seorang ilmuan wajib melporkan hasil pengamatan secara objiktif.
*      Terbuka
*      Toleran, “pengunguman-pengunguman saya hebat”, tidak seperti itu sebagai ilmuan yang hebat.
*      Skeptis, kurang percaya atau ragu.
*      Pemberani, ilmu merupakan hasil usaha keras dan sipatnya personal, terjadi pertentangan didalam teori  sebelumnya itu suatu hal yang logis dan dibutuhkan keberanian tanpa batas untuk menyangkal dari hasil penelitian.
*      Kreatif.

Saran
Hidup bukan tergantung pada sesuap nasi yang kau makan, melainkan itu sumber dari hal pendukung pada sikap ilmiah, tanpa memikirkan hal yang tidak perlu”lapar”. Semangat terus dan jalani aja akan pilihan yang sudah kita pilih, pintu akan kita temukan jika kita bersikap ilmiah.





[1]Asimov (1979). Disebut “ idle curi0usity ” . Naluri itu bertitik pusat pada mempertahankan kelastarian halaman hidup, dan sipatnya tetap sepanjang zaman.
[2] DRS. MASKOERI JASIN. ILMU ALAMIYAH DASAR  UNTUK PRGURUAN TINGGI DAN UMUM .PT. Bina Ilmu Surabaya.menunggu pen dipuaskan, kalau satu masalah dipecahkan, timbol masalah yang lain menunggu pencerahannya. Surabaya 1987. Hal 1-2
[3] Drs. Abdullah Aly , Dan Ir. Eny Rahma.  MKDU, ILMU ALAMIYAH DASAR. BUMI AKSARA  Jakarta. Maret 1993. HAL 13-17. 
[4]Drs. Mawardi- Ir. Nur Hidayati. IAD-ISD-IBD ILMU ALAMIYAH DASAR, ILMU SOSIAL DASAR, ILMU BUDAYA DASAR. Untuk IAIN , STA1-INS, PTAINS, Semua Fakultas dan JUrusan Komponen MKU. Pustaka Stia Bandung.Cetakan kedua 2002. Hal167-168.
[5] Drs. Mawardi- Ir. Nur Hidayati. IAD-ISD-IBD ILMU ALAMIYAH DASAR, ILMU SOSIAL DASAR, ILMU BUDAYA DASAR. Untuk IAIN , STAINS, PTAINS, Semua Fakultas dan JUrusan Komponen MKU. Pustaka Stia Bandung. Cetakan ketiga  oktober 2004,Hal  115.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar