BAB 1
1.
PENDAHULUAN
Ilmu alam (IA) atau sering disebut juga ilmu pengatahun alam
(IPA), yang dalam bahasa inggris disebut “ Natural Sciense “ atau SAINS. Ilmu
alamiyan mempelajari tenttang gejala-gejala alam dengan
akal sehigga timbul konsep, sedang ilmu alamyah dasar (IAD) hanya membahas
prinsip-prinsip dasar Ilmu Alamiyah .
1.
Manusia yang Bersipat Unik
Manusia
sebagai makhluk hidup mempunyai ciri-ciri:
ü Memiliki
organ tubuh yang kumpliks dan khusus.
ü Mengadakan
pertukaran zat.
ü Memberikan
tanggapan dan rangsangan terhadap dari dalam dan dari luar.
ü Memiliki
potensi berkembang biak.
ü Tumbuh dan
bergerak.
ü Berenteraksi
dengan lingkungan.
ü Mati.
2.
Rasa Ingin Tahu dan Akal Budi
Semua
makhluk hidup memberikan tanggapan terhadap rangsangan dari luar , yaitu
lingkungan,; maka hewan, tumbuhan dan manusia juga memberikan riaksi terhadap
lingkungannya. Misalnya tumbuhan hijau daun memberikan reaksi terhadap sinar
matahari. Hewan tingkat tiggi memberikan reaksi terhadap lingkungan dengan mengadakan
eksplorasi atau ingin tahu daerah lain.[1]Manusia
juga memiliki naluri seperti tumbuhan dan hewan, tetapi manusia memiliki akan
dan bodi. Rasa ingin tahu manusia tidak pernah dipuaskan, kalau satu masalah
dipecahkan, timbul masalah yang lain.[2]
2. Rumusan
Masalah
v Apa yang
dimaksud dengan metode ilmiah?
v Bagaimana
membentuk sikap ilmiah pada diri pribadi yang berawal dari kesadaran?
v Jelaskan
mengenai langkah-langkah operasional metode ilmiah yang ditinjau dari segi
teori dan praktiknya didalam masyarakat luas.
3. Tujuan
Memberikan gambaran tentang suatu hal yang nyata dengan prinsip
sebab akibat didalam suatu perbuatan.Pilihan selalu ada dan tindakan selalu
mengiringi, baik buruknya ada ditangan kita, Sudah selayaknya manusia dengan
akalnya menjadi manusia sebenarnya.
BAB II
METODEILMIAH
1. Pengertian Metode Ilmiah
Metode ilmiah adalah berpikir secara rasional dan berpikir secara
empiris membentuk dua kutub yang saling bertentangan.Kedua belah pihak,
masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangannya.akhirnya timbul gagasan untuk menggabungkan kedua
pendekatan ini sedemikian hingga tersusun metode yang dapat lebih diandalkan untuk menemukan pengetahuan
yang benar. Gabungan antara dua pendekatan rasional dan pendekatan empiris
dinamakan metode Ilmiah.Rasionalisme memberikan kerangka pemikiran yang koheren
dan logis, sedang empirisme dalam memastikan kebenarannya memberikan kerangka
pengujiannya.Dengan demikian maka pengetahuan yang dihasilkan ialah pengetahuan
yang konsisten dan sistematis serta dapat diandalkan, karena telah diuju secara
empiris.
Metode ilmiah merupakan bagian yang paling penting dalam
mempelajari ilmu alamiah.Langkah-langkah dalam menerapkan metode ini tidak
harus selalu berurutan, langkah demi langkah, seperti yang tercantum berikut
ini. Yang penting ialah pemecahan masalah untuk mendapatkan kesimpulah umum (generalisasi)hanya didasarkan atas data
dan diuji dengan data bukan dengan keinginan, prasangka, kepercayaan, atau
pertimbangan lain.
Metode ilmiah sendiri merupakan cara dalam memperoleh pengetahuan
secara ilmiah. Dapat juga dikatakan bahwa metode ilmiah merupakan gabungan
antara rasionalisme dan empirisme.Cara-cara berpikir rasional dan empiris
tersebut tercermin dalam langkah-langkah yang terdapat dalam peroses kegiatan
ilmiah tersebut.Kerangka dasar prosedurnya dapat diuraikan ats langkah-langkah
berikut.
1). Penemuan atau penentuan masalah
Dalam kehidupan sehari-hari kita menghadapi berbagai masalah
dengan adanya masalah ini maka otak kita mulai berpikir. Kesadaran mengenai
masalah yang kita temukan secara empiris tersebut menyebabkan kita mulai
memikirkannya secara mendalam: kita mulai mengkajinya secara rasional. Masalah
tersebut harus dirumuskan sedemikian rupa hingga memungkinkan untuk dianalisa
secara logis dan kemudian mudah untuk dipecahkan. Jadi pada langkah pertama ini
kita menetapkan masalah yang akan kita telaah dengan ruang lingkup serta
batasan-batasannya. Ruang lingkup serta batasan-batasannya tersebut harus jelas
sedemikian hingga tidak mengalami kesukaran dalam merumuskan kerangkanya.
2). Perumusan kerangka masalah
Langkah ini merupakn usaha untuk mendiskripsikan permasalahannya
secara lebih jelas.Suatu masalah merupakan suatu gejala dimana beberapaa fakta
saling berkaitan satu samalain dan membentuk suatu kerangka
permasalahan.Unsure-unsur yang membentuk kerangka ini dapat kita turunkan
secara empiris.Tetapi tidak semua masalah dalam keadaan demikian.Banyak
masalah-masalah yang unsur-unsur pembentuknya tidak dapat dikenel dengan
langsung secara empiris, dan untuk itu diperlukan kerangka pemikiran
rasional.jadi dalam langkah perumusan kerangka permasalahan ini, kita sudah
mulai berpikir secara empiris dan secara rasional.
3).Pengajuan Hipotesis
Hipotesis adalah kerangka pemikiran sementara yang menjelaskan
hubungan antara unsure-unsur yang membentuk suatu kerangka permasalahan.Pengajuan
hipotesis ini didasarkan pada permasalahan yang bersifat rasional.Kerangka
pemikiran sementara yang diajukan tersebut disusun secara deduktif berdasarkan
premis-premis atau pengetahuan yang telah diketahui kebenarannya.
4). Deduksi Hipotesis
Kadang-kadang, dalam menjebatani permasalahan secara rasional
dengan pembuktian secara empiris membutuhkan langkah perantara.Deduksi hipotesa
ini merupakan langkah tertentu dalam rangka menguji hipotesa yang
diajukan.Konsekuensi hipotesa tersebut secara deduktif dijabarkan secara
empiris. Jadi dapat juga dikatakan bahwa deduksi hipotesis merupakan
identifikasi fakta-fakta apa saja yang dapat diamati dalam dunia fisik yang
nyata dalam hubungannya dengan hipotesis yang diajukan.
5). Pengujian Hipotesis
Langkah ini merupakan usaha untuk mengumpulkan fakta-fakta yang
relevan dengan deduksi hipotesis.Jika fakta-fakta tersebut sesuai dengan
konsekuensi hipotesis, berarti bahwa hipotesis yang di ajukan terbukti/benar,
karena didukung oleh fakta-fakta yang nyata.Sebaliknya bila fakta-fakta yang
ada tidak sesuai dengan konsekuensi hipotesis, yang berarti bahwa hasil
deduksinya mleset, maka hipotesis tersebut harus di tolak.Jadi kriteria untuk
menentukan apakah suatu hipotesis itu benar atau tidak ialah kenyataan empiris,
apakah hipotesis tersebut didukung oleh fakta atau tidak.
Dengan telah dibuktikannya kebenaran dari suatu hipotesis, maka
hipotesis tersebut dapat dianggap sebagai teori ilmiah dan merupakan
pengetahuan baru.Pengetahuan baru ini dapat berupa teori baru, kaidah baru,
atau mungkin juga hanya sekedar penemuan lanjutan dari teori yang sudah
ada.Selanjutnya pengetahuan ini dapat digunakan sebagai premis dalam usaha
menjelaskan atau menelaah gejala-gejala lainnya. Proses kegiatan ilmiah tersebut
berlangsung terus dan merupakan daur yang tidak ada batas akhirnya.
Langkah-langkah dalam kegiatan ilmiah tersebut diatas tersusun
dalam urutan yang teratur; langkah yang satu merupakan persiapan bagi langkah
berikutnya. Agar suatu penelaahan dapat disebut ilmiah, maka harus ditempuh
seluruh langkah –langkah tersebut, meskipun prakteknya tidak selalu harus
dengan urutan yang sama. Dengan danya hubungan langkah-langkah yang dinamis,
langkah yang satu menjelaskan langkah-langkah yang lainnya maka pengetahuan
yang ditemukan konsisten dengan pengetahuan sebelumnya dan didukung oleh
fakta-fakta yang nyata.[3]
6).Keterbatasan dan keunggulan metode
ilmiah
Metode ilmiah dapat meghasilkan ilmu atau pengetahuan yang
ilmia.Dalam pengujian hipotesis, diperlukan data.Data ini berasal dari
pengamatan yang dilakukan oleh pancaindra.Kita mengetahui bahwa panca indera
mempunyai keterbatasan untuk menangkap suatu fakta.Dengan demikian maka data
yang terkumpul juga tidak sesuai dengan yang sebenernya. Kesimpulan yang diambil
berdasarkan data yang tidak benar, tentusaja akan tidak benar. Jadi, peluang
terjadinya kekeliruann suatu kesimpulan yang diambil berdasarkan metode ilmiah
tetap ada. Oleh karena itu semua kesimpulan ilmiah, tau kebenaran ilmiah,
termasuk ilmu pengetahuan Alam (IPA) bersifat tentative, artinya kesimpulan itu
dianggap benar selama belum ada kebenaran ilmu yang dapat menolak kesimpulan
itu. Sedangkan kesimpulan ilmiah yang dapat menolak kesimpulan ilmiah yang
terdahulu, menjadi kebenaran ilmu yang baru.
Keterbatasan lain dari metode ilmian adalah tidak dapat menjangkau
untuk membuat kesimpulan yang bersangkutan dengan baik dan buruk atau sistem
nilai, tentang seni dan keindahan, dan
juga tidak dapat menjangkau untuk menguji adanya Tuhan.
Keunggulan:
Ilmu atau Ilmu Pengetahuan (termasuk IPA) mempunyai ciri khas
yaitu obyektif, metodik, sistematik dan berlaku umum. Dengan sifat-sifat
tersebut, maka orang yang berkecimpung atau selalu berhubungan dengan ilmu
pengetahuan akan terbimbing sedemikian hingga padanya terkembangkan suatu sikap
yang disebut sikap ilmiah. Yang dimaksud dengan sikap ilmiah tersebut adalah
sikap:
a) Mencintai
kebenaran yang obyektif, dan bersikap adil.
b) Menyadari
bahwa kebenaran ilmu tidak absolute.
c) Tidak
percaya pada takhayul, astrologi maupun untung-untungan.
d) Ingin tahu
lebih banyak.
e) Tidak
berpikir secara prasangka.
f) Tidak
percayaa begitu saja pada suatu kesimpulan tanpa adanya bukti-bukti yang nyata.
g) Optimis,
teliti dan berani menyatakan kesimpulan yang menurut keyakinan ilmiahnya adalah
benar.
A.
SIKAP ILMIAH
Salah satu aspek tujuan dalam mempelajari
ilmu alamiah adalah pembentukan sikap ilmiah.
Orang yang berkecimpung dalam ilmu alamiah akan membentuk sikap ilmiah
yang antara lain adalah.
a) Jujur
Seorang ilmuan wajib melaporkan
hasil pengamatan secara objektif. Seorang ilmuan dalam kehidupan
sehari-hari mungkin saja tidak jujur
dari manusia lainnya. Tetapi dalam penelaahan ilmiah ada hal-hal yang memaksa
pada ilmuan, yakni yang kita sebut faktor
control.
Seorang ilmuan telah dilatih untuk memperhatikan kontrol internal dalam setiap
penelitiannya.Dengan ini factor-faktor kebetulan disingkirkan. Dalam suatu
penelitian tentang pengaruh sejenis obat tertentu, dibuat kelompok penderita
yang diberi obat tertentu dan klompok lain yang tidak diberi obat sebagai
klompok control.
Disamping kontrol internal dan
pula kontrol eksternal.Dalam hal ini
ilmuan lain akan mengulangi penelitian ilmuan pertama dengan kondisi yang
dibuat serupa. Seterusnya ilmuan ketiga dapat pula menguji peneliti diatas.
Karena itu, laporan ilmuan haruslah
dibuat sejujur-jujurnya dan penelitian menjadi terbuka untuk pengulangan.
Memang seorang ilmuan harus jujur dalam melaksanakan laporan penelitiannya.
Manusia dan Cinta Kasih, Cinta kasih bersumber pada ungkapan,
perasaan yang didukungoleh unsur karsa, yang berbentuk tingkahlakudan
pertimbangan dengan akalyang menimbulkan tanggung jawab.
Macam-macam cinta kasih ,
Adanya beberapa macam cinta kasih, yaitu sebagai berikut :
Ø Cinta kasih
antara orang tua dan anak.
Ø Cinta kasih
antara wanita dan pria.
Ø Cinta kasih antara sesama manusia.
Ø Cinta kasih
antara manusia dan Tuhan.
Ø Cinta kasih
antara manusia dan lingkungan.[4]
b) Terbuka
Seorang ilmuan mempunyai pandanngan luas, terbuka, bebas dari
praduga.Ia meyakini bahwa prasangka, kebencian, baik pribadi maupun golongan
dan pembunuhan adalah sangat kejam. Ia tidak akan berusaha memperoleh dugaan
bagi buah pikirannya atas dasar prasangka. Ia akan terus berusaha mengetahui
kebenaran tentang alam, materi, moral, politik, ekonomi, dan tentang hidup. Ia
tidak akan meremehkan suatu gagasan baru. Ia akan menghargai setiap gagasan
baru dan mengujinya sebelum menerima atau menolaknya. Jadi, ia terbuka akan
pendapat oaring lain.
c) Toleran
Seorang ilmuan tidak merasa bahwa ia paling hebat. Ia bahkan
bersedia mengakui bahea orang lain mungkin lebih banyak pengetahuannya, bahwa
pendapatnya mungkin saja salah, sedangkan pendapat orang lain setelah diuji
mungkin benar. Dalam usaha menambah ilmu pengetahuan ia bersedia belajar dari
orang lain, memperbandingkan pendapatnya dengan pendapat orang lain. Ia tidak
akan memaksakan suatu pendapat kepada
oarng lain. Ia memiliki tenggang rasa atau sikap toleran yang tinggi, jauh dari
sikap angkuh.
d) Skeptis
Ilmuan pencari kebenaran akan bersikap hati-hati, meragui,
skeptic. Ia akan menyelidiki bukti-bukti yang melatar belakangi suatu
kesimpulan. Ia tidak akan sinis, tetapi kritis untuk memperoleh data yang
menjadi dasar suatu kesimpulan tanpa didukung bukti-bukti yang kuat.
Sikap skeptis ini perlu dikembangkan oleh orang yang berniat
memecahkan masalaah. Bila ia tidak kritis mengenai setiap informasi yang ia
peroleh, mungkin ada informasi yang salah hingga meninbulkan akibat suatu
kesimpulan yang salah. Karena itu, setiap informasi perlu diuji, kebenarannya
perlu dicek.Informasi memerlukan verifikasi.
Setelah bukti-bukti cukup, ilmuwan baru boleh mengambil kesimpulan
dan akhirnya memberikan keputusan.
e) Optimis
Seoarang ilmuwan selalu berpengharapan baik.Ia tidak akan berkata
bahwa sesuatu itu tidak dapat dikerjakan, tetapi akan mengatakan, “Berikan saya
kesempatan untuk memikirkan dan mencoba mengerjakan.” Ia selalu optimis.
Rasa humor seorang ilmuan ada hubungannya dengan tingkat
kecerdasan maupun sikap optimis seseorang.John Von Neuman seorang ahli
matematika ditugaskan membuat komputer untuk perhitungan yang diperlukan
sewaktu membuat bom hidrogen. Setelah selesai pesawat itu diserahkan dan dicoba
digunakan, maka alat itu ia beri nama Mathematical
Analyser, Numerical Integrator anda Computer, disingkat MANIAC.
f) Pemberani
Ilmu merupakan hasil usaha keras dan sipatnya personal. Ilmuan
sebagai pencari kebenaran harus berani melawan ketidakbenaran , penipuan,
kepura- puraan, kemunapikkan dan kebatila yang menghambat kemajuan.
Keberanian Copernicus, Galileo, dan Socrates telah banyak
diketahui orang .Copernicus dan Galileo
diperselisihkan bahwa bumi adalah pusat alam semesta; tetapi menganggap
mataharilah yang menjadi pusat tempat bumi dan planet-planet lainnya berputar.
Socrates memilih minum racun daripada menerima hal yang salah.
Profesor Peabody memberikan kuliah terakhir tetang Perawatan orang sakit. Kuliah ini
sangat jelas, penuh rasa belas kasih, sehingga berkali-kali dicetak ulang .pada
saat kuliah, ia baru berumur 46 tahun, segar bugar kelihatannya. Uraian
kuliahnya sangat serat berisi, cermat, dan disampaikan dengan pasih.
Pendengarannya tidk diketahui bahwa dialik ketenangan, Peabody mengidap kanker
ganas yang ia derita, ditekuni dan dipahami sepenuh hati medis mengenai setiap
gejala kanker yang dialaminya. Sehari sebelum ia meninggal ia menulis sendiri
laporan penyakitnya. Itulah ketabhan ilmuan yang ditunjukkannya.
g) Kreatif
Ilmuan dalam mengembangkan ilmunya harus kreatif. Louis Al-Varez ,
ilmuan fisika Berkeley, juga pemain golf mengkreasiakn analisator stroboskop
untuk meningkatkan cara bemain golf.dengan alat itu, pada pemukulan golf
fase-fase gerak dapat dipelajari, setiap pukulan dapat diteliti. Kepada
presiden Eisenhower, yang juga terkenal pemain golf,ia menghadiahkan alat
serupa. Sejak itu I memegang paten untuk pembuatan analisator stroboskop tadi.
Dampak Terhadap kebutuhan Manusia Pokok Mmanusia
Pangan
Dampak yang ditimbulkan oleh kemajuan ilmu
pengatahuan alam dan tiknologi ada yang pusitif da nada yang negative. Dampak
positif antara lain.
Ø Ditemukan
bibit unggul yang dalam waktu sigkat dapat memproduksi bersipat ganda.
Ø Mekanisme
pertanian
Ø Biotiknologiuntuk
merangsang tumbuhnya daun,bunga, atau buah sehigga tumbuh lebih banyak.
Dampak negatifnya pada pemakaian pestisida yang dapat membunuh hewan ternak dan berbagai
sumber penyakit bagi manusia.[5]
Torrance mendefinisian kreativitas sebagai proses prtumbuhan
hingga peka akan masalah, kekurangansempurnaan, kekurang tahuan,
ketidaklengkapan, ketidakharmonisan dan seterusnya; mengenal kesulitan, mencari
pemecahan,; membuat dugaan; merumuskan; dan membuat hepotesis, serta melaporkan
hasil hasil penelitian.
B.
LANGKAH-LANGKAH
OPERASIONAL METODE ILMIAH
Salah satu syarat ilmu pengetahuan ialah materi pengetahuan itu
harus diperoleh melalui metode ilmiah. Ini berarti bahwa caramemperoleh
pengetahuan itu menentukan apakan pengetahuan itu termasuk ilmiah atau tidak.
Metode ilmiah tentu saja harus menjamin akan menghasilkan pengetahuan yang
ilmiah, yaitu yang bercirikan objektivitas, konsisten, dan sistematik.
Langkah-langkah operasional metode ilmiah
adalah sebagai berikut:
a. Perumusan masalah; yang
dimaksud dengan masalah disini adalah pernyataan apa, mengapa, ataupun
bagaimana tentaang objek yang diteliti. Masalah itu harus jelas batas-batasnya
serta dikenal factor-faktor yang mempengaruhinya.
b. Penyusunan hipotesis; yang
dimaksuddengan hipotesis adalah suatu pernyataan yang menunjukkan kemungkinan
jawaban untuk memecahkan masalah yang telah ditetapkan. Dengan kata lain,
hipotesis merupakan dugaan yang tentu saja didukung oleh pengetahuan yang ada.
Hipotesis juga dapat dipandang sebagai jawaban sementara dari permasalahan yang
harus diuji kebenarannya dalam suatu observasi atau eksperimentasi.
c. Pengujian hipotesis; yaitu
berbagai usaha pengumpulan fakta-fakta yang relevan dengan hipotesis yang telah
diajukan untuk memperlihatkan apakah terdapat fakta-fakta yang mendukung
hipotesis tersebut atau tidak. Fakta-fakta ini dapat diperoleh melalui
pengamatan langsung dengan mata atau melalui teleskop atau dapat juga melalui
uji coba atau eksperimentasi, kemudian fakta-fakta itu dikumpulkan melalui penginderaan.
d. Penarikan
kesimpulan; penarikan kesimpulan ini didasarkan atas penilaian melalui analisis
dari fakta (data) untuk melihat apakah hipotesis yang diajukan itu diterima
atau tidak.
Hipotesis itu dapat diterima bila fakta yang terkumpul itu
mendukung pernyataan hipotesis.Bila fakta tidak mendukung maka hipotesis itu
ditolak.Hipotesis yang diterima merupakan suatu pengetahuan yang kebenarannya
telah diuji secara ilmiah, dan merupakan bagian dari ilmu pengetahuan.
Keseluruhan langkah tersebut harus ditempuh melalui urutan yang
teratur, langkah yang satu merupakan landasan bagi langkah berikutnya. Dari
keterangan-keterangan tersebut dapat disimpulkan bahwa ilmu pengetahuan
merupakan pengetahuan yang disusun secara sistematis, berlaku umum dan
kebenarannya teruji secara empiris.
Bab III
Kesimpulan
Ø Metode
ilmiah adalah berpikir secara rasional “mengunakan akal atau dapat diterima
oleh akal” suatu cara memperolehpengatahuan yang logis.
Ø Sikap ilmiah
berawal dari kesadaran merupakan ilham / atau buah dari pemikiran suatu hal
yang menekankan pada perubahan akan pencerahan cahaya ilmu dalam tuntunan arah
kehidupan, ia tidak menjadi laying-layang putus, Melainkan tali belati
digemgaman tangan kanannya. Pembentukan sikap ilmiah, orang akn berkecimpung
dalam imu alamiah, maka akan berbentuk sikap ilmiah yang diantaranya, yaitu:
Saran
Hidup bukan tergantung pada sesuap nasi yang kau makan, melainkan
itu sumber dari hal pendukung pada sikap ilmiah, tanpa memikirkan hal yang
tidak perlu”lapar”. Semangat terus dan jalani aja akan pilihan yang sudah kita
pilih, pintu akan kita temukan jika kita bersikap ilmiah.
[1]Asimov (1979). Disebut “ idle curi0usity ” . Naluri itu
bertitik pusat pada mempertahankan kelastarian halaman hidup, dan sipatnya
tetap sepanjang zaman.
[2] DRS. MASKOERI JASIN. ILMU ALAMIYAH DASAR UNTUK PRGURUAN TINGGI DAN UMUM .PT. Bina
Ilmu Surabaya.menunggu pen dipuaskan, kalau satu masalah dipecahkan, timbol masalah yang lain menunggu
pencerahannya. Surabaya 1987. Hal 1-2
[3] Drs. Abdullah Aly , Dan Ir. Eny Rahma. MKDU, ILMU ALAMIYAH DASAR. BUMI AKSARA Jakarta. Maret 1993. HAL 13-17.
[4]Drs. Mawardi- Ir. Nur Hidayati. IAD-ISD-IBD ILMU
ALAMIYAH DASAR, ILMU SOSIAL DASAR, ILMU BUDAYA DASAR. Untuk IAIN , STA1-INS,
PTAINS, Semua Fakultas dan JUrusan Komponen MKU. Pustaka Stia Bandung.Cetakan
kedua 2002. Hal167-168.
[5] Drs. Mawardi- Ir. Nur Hidayati. IAD-ISD-IBD ILMU
ALAMIYAH DASAR, ILMU SOSIAL DASAR, ILMU BUDAYA DASAR. Untuk IAIN , STAINS,
PTAINS, Semua Fakultas dan JUrusan Komponen MKU. Pustaka Stia Bandung. Cetakan
ketiga oktober 2004,Hal 115.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar